Sabtu, 03 Mei 2014

SEORANG PEMUDA YANG DIPEREBUTKAN PARA BIDADARI

 
 Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh....
 
 
SEORANG PEMUDA YANG DIPEREBUTKAN
PARA BIDADARI
Bismillah... Sebagai seorang pengantin, wanita lebih cantik
dibanding seorang gadis. Sebagai seorang ibu, wanita lebih
cantik dibanding seorang pengantin. Sebagai istri dan ibu, ia
adalah kata-kata terindah di semua musim dan dia tumbuh
menjadi lebih cantik bertahun-tahun kemudian.
Pada masa Rasulullah, di Madinah, tinggallah seorang
pemuda bernama Zulebid. Dikenal sebagai pemuda yang baik
di kalangan para sahabat. Juga dalam hal ibadahnya
termasuk orang yang rajin dan taat.
Dari sudut ekonomi dan finansial, ia pun tergolong
berkecukupan. Sebagai seorang yang telah dianggap mampu,
ia hendak melaksanakan sunnah Rasul yaitu menikah.
Beberapa kali ia meminang gadis di kota itu, namun selalu
ditolak oleh pihak orang tua ataupun sang gadis dengan
berbagai alasan.
Akhirnya pada suatu pagi, ia menumpahkan kegalauan
tersebut kepada sahabat yang dekat dengan Rasulullah.
“Coba engkau temui langsung Baginda Nabi, semoga engkau
mendapatkan jalan keluar yang terbaik bagimu”, nasihat
mereka.
Zulebid kemudian mengutarakan isi hatinya kepada Baginda
Nabi.
Sambil tersenyum beliau berkata:
“Maukah engkau saya nikahkan dengan putri si Fulan?”
“Seandainya itu adalah saran darimu, saya terima. Ya
Rasulullah, putri si Fulan itu terkenal akan kecantikan dan
kesholihannya, dan hingga kini ayahnya selalu menolak
lamaran dari siapapun.
“Katakanlah aku yang mengutusmu”, sahut Baginda Nabi.
“Baiklah ya Rasul”, dan Zulebid segera bergegas bersiap dan
pergi ke rumah si Fulan.
Sesampai di rumah Fulan, Zulebid disambut sendiri oleh
Fulan
“Ada keperluan apakah hingga saudara datang ke rumah
saya?” Tanya Fulan.
“Rasulullah saw yang mengutus saya ke sini, saya hendak
meminang putrimu si A.” Jawab Zulebid sedikit gugup.
“Wahai anak muda, tunggulah sebentar, akan saya tanyakan
dulu kepada putriku.”
Fulan menemui putrinya dan bertanya, “bagaimana
pendapatmu wahai putriku?”
Jawab putrinya, “Ayah, jika memang ia datang karena diutus
oleh Rasulullah saw, maka terimalah lamarannya, dan aku
akan ikhlas menjadi istrinya.”
Akhirnya pagi itu juga, pernikahan diselenggarakan dengan
sederhana. Zulebid kemudian memboyong istrinya ke
rumahnya.
Sambil memandangi wajah istrinya, ia berkata,” duhai Anda
yang di wajahnya terlukiskan kecantikan bidadari, apakah ini
yang engkau idamkan selama ini? Bahagiakah engkau
dengan memilihku menjadi suamimu?”
Jawab istrinya, ” Engkau adalah lelaki pilihan rasul yang
datang meminangku. Tentu Allah telah menakdirkan yang
terbaik darimu untukku. Tak ada kebahagiaan selain menanti
tibanya malam yang dinantikan para pengantin.”
Zulebid tersenyum. Dipandanginya wajah indah itu ketika
kemudian terdengar pintu rumah diketuk. Segera ia bangkit
dan membuka pintu. Seorang laki-laki mengabarkan bahwa
ada panggilan untuk berkumpul di masjid, panggilan berjihad
dalam perang.
Zulebid masuk kembali ke rumah dan menemui istrinya.
“Duhai istriku yang senyumannya menancap hingga ke relung
batinku, demikian besar tumbuhnya cintaku kepadamu,
namun panggilan Allah untuk berjihad melebihi semua
kecintaanku itu. Aku mohon keridhoanmu sebelum
keberangkatanku ke medan perang. Kiranya Allah mengetahui
semua arah jalan hidup kita ini.”
Istrinya menyahut, “Pergilah suamiku, betapa besar pula
bertumbuhnya kecintaanku kepadamu, namun hak Yang
Maha Adil lebih besar kepemilikannya terhadapmu. Doa dan
ridhoku menyertaimu”
Zulebid lalu bersiap dan bergabung bersama tentara muslim
menuju ke medan perang. Gagah berani ia mengayunkan
pedangnya, berkelebat dan berdesing hingga beberapa orang
musuh pun tewas ditangannya.
Ia bertarung merangsek terus maju sambil senantiasa
mengumandangkan kalimat Tauhid … ketika sebuah anak
panah dari arah depan tak sempat dihindarinya. Menancap
tepat di dadanya. Zulebid terjatuh, berusaha menghindari
anak panah lainnya yang berseliweran di udara. Ia merasa
dadanya mulai sesak, nafasnya tak beraturan, pedangnya
pun mulai terkulai terlepas dari tangannya.
Sambil bersandar di antara tumpukan korban, ia merasa
panggilan Allah sudah begitu dekat. Terbayang wajah kedua
orangtuanya yang begitu dikasihinya. Teringat akan masa
kecilnya bersama-sama saudaranya. Berlari-larian bersama
teman sepermainannya.
Berganti bayangan wajah Rasulullah yang begitu dihormati,
dijunjung dan dikaguminya. Hingga akhirnya bayangan
rupawan istrinya. Istrinya yang baru dinikahinya pagi tadi.
Senyum yang begitu manis menyertainya tatkala ia
berpamitan. Wajah cantik itu demikian sejuk memandangnya
sambil mendoakannya.
Detik demi detik, syahadat pun terucapkan dari bibir Zulebid.
Perlahan-lahan matanya mulai memejam, senyum
menghiasinya … Zulebid pergi menghadap Ilahi, gugur
sebagai syuhada.
Rasulullah dan para sahabat mengumpulkan syuhada yang
gugur dalam perang. Di antara para mujahid tersebut
terdapatlah tubuh Zulebid yang tengah bersandar di
tumpukan mayat musuh.
Akhirnya dikuburkanlah jenazah zulebid di suatu tempat.
Berdampingan dengan para syuhada lain.
Tanpa dimandikan ..
Tanpa dikafankan ..
Tanah terakhir ditutupkan ke atas makam Zulebid.
Rasulullah terpekur di samping pusara tersebut.
Para sahabat terdiam membisu.
Sejenak kemudian terdengar suara Rasulullah seperti
menahan isak tangis. Air mata berlinang di dari pelupuk
mata beliau
Lalu beberapa waktu kemudian beliau seolah-olah
menengadah ke atas sambil tersenyum.
Wajah beliau berubah menjadi cerah. Belum hilang keheranan
shahabat, tiba-tiba Rasulullah menolehkan pandangannya ke
samping seraya menutupkan tangan menghalangi arah
pandangan mata beliau.
Akhirnya keadaan kembali seperti semula ..
Para shahabat lalu bertanya-tanya, ada apa dengan
Rasulullah.
“Wahai Rasulullah, mengapa di pusara Zulebid engkau
menangis?”
Jawab Rasul, “Aku menangis karena mengingat Zulebid. Oo ..
Zulebid, pagi tadi engaku datang kepadaku minta restuku
untuk menikah dan engkau pun menikah hari ini juga. Ini hari
bahagia.Seharusnya saat ini Engkau sedang menantikan
malam Zafaf, malam yang ditunggu oleh para pengantin.”
“Lalu mengapa kemudian Engkau menengadah dan
tersenyum?” Tanya sahabat lagi.
” Aku menengadah karena kulihat beberapa bidadari turun
dari langit dan udara menjadi wangi semerbak dan aku
tersenyum karena mereka datang hendak menjemput
Zulebid,” Jawab Rasulullah.
“Dan lalu mengapa kemudian Engkau memalingkan
pandangannya dan menoleh ke samping?” Tanya mereka
lagi.
“Aku mengalihkan pandangan menghindar karena
sebelumnya kulihat, saking banyaknya bidadari yang
menjemput Zulebid, beberapa diantaranya berebut
memegangi tangan dan kaki Zulebid. Hingga dari salah satu
gaun dari bidadari tersebut ada yang sedikit tersingkap
betisnya.”
Di rumah, istri Zulebid menanti sang suami yang tak kunjung
kembali. Ketika terdengar kabar suaminya telah menghadap
sang ilahi Rabbi, Pencipta segala Maha Karya.
Malam menjelang …
Terlelap ia, sejenak berada dalam keadaan setengah mimpi
dan dan nyata ..
Lamat-lamat ia seperti melihat Zulebid datang dari
kejauhan .. Tersenyum, namun wajahnya menyiratkan
kesedihan pula ..
Terdengar Zulebid berkata, “Istriku, aku baik-baik saja. Aku
menunggumu disini. Engkaulah bidadari sejatiku. Semua
bidadari disini pabila aku menyebut namamu akan
menggumamkan cemburu padamu…. Dan kan kubiarkan
engkau yang tercantik di hatiku.”
Istri Zulebid, terdiam.
Matanya basah …
Ada sesuatu yang menggenang disana ..
Seperti tak lepas ia mengingat acara pernikahan tadi pagi ..
Dan bayangan suaminya yang baru saja hadir ..
Ia menggerakkan bibirnya ..
“Suamiku, aku mencintaimu …
Dan dengan semua ketentuan Allah ini bagi kita ..
Aku ikhlas …..”

Dan,..Akan kemanakah kumbang terbang ..
Pada siapa rindu mendendam ..
Kekasih yang terkasih ..
Pencinta dan yang dicinta ..
Semua berurai air mata ..
Sedih, ataukah bahagia …..?
Subhanallah....

Ya Allah, berikanlah kami pasangan hidup yang setia, sholeh
dan sholehah serta anak keturunan yang bisa menentramkan
hati dan jiwa kami.
Aamiin ya Rabbal'alamiin.
 
 Wassalam....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar